Oleh : Eva dwi wulan sari Senin 11.30 Siang bangkit dari kehangatan pagi, seperti ular raksaksa menggeliat dan beranjak untuk memburu bayi – bayi domba, matahari yang semula bersahabat mulai memanasi atap – atap rumah, jalanan mulai mematuk pori – pori, terik matahari seakan memangang rongga – rongga kulitku, angin yang tak kunjung tiba membuat keringat ini jatuh bercucuran entah kenapa hati serasa gundah, pilu, resah mendesah menuju sang rasa jiwa, “ K.Dwi ijinkan lah aku bersamamu menemani mu dalam sepi yang mencekat relulung jiwamu,” fikiran itu tiba – tiba muncul dalam benakku. Aroma wangi dari tubuhmu tersibak angin, kau menatapku terpaku dari ruangan kerjamu, semakin membuatku salah tingkah ketika kau melihatku, sehingga membuat ku tersipu malu, tiba – tiba muncul dalam anganku tentang kenagan yang menghimbauku untuk menengok kursi tua itu, letaknya tak jauh dari parkiran guru yang biasanya ramai saat anak – anak rehat dan sekedar nongkrong saat jam p...
Comments